Jumat, 31 Mei 2019

hina dihadapan manusia .. tiada mengapa ... jelek dihadapan manusia tak masalaha

Secara fisik, tak ada yang menarik dari salah seorang sahabat Nabi yang sering di panggil Julaibib. Postur tubuh yang kecil, wajah yang buruk, kulit hitam legam, serta berpenampilan lusuh. Bahkan, Julaibib tak mengenal siapa ayah ibunya. Mung kin orang tuanya malu mendapati anak seperti dirinya, lalu membuangnya. Ia sering luntang-lantung di Madinah dan hidup seperti gelandangan.
Julaibib adalah julukan untuknya yang berarti “orang yang berjubah sangat kecil”. Kendati ia kurang beruntung dari segi fi sik, Julaibib termasuk di antara sahabat Nabi yang saleh. Ia selalu berada di saf terdepan dalam shalat maupun di medan jihad. Suatu kali, Rasulullah SAW menyapanya. “Tidakkah engkau ingin menikah, wa hai Julaibib?” tanya Rasul. Julaibib pun tahu diri. Siapalah gerangan manusia yang mau menikahkan putrinya dengan se orang gelandangan lagi buruk seperti dirinya? Namun tampaknya Rasulullah SAW sungguh-sungguh dengan ucapannya.

Rasulullah SAW menanyakan hal yang sama tiga kali. Tapi tetap ditepis oleh Julaibib. Pada kali ketiga, Rasulullah SAW ber tekad akan menikahkan Julaibib. Rasulullah SAW tak hanya sekadar bertanya, tapi langsung mengapit lengan Julaibib dan membawanya melamar seorang gadis. Tak tanggung-tanggung pula, yang dituju adalah rumah salah seorang pemimpin kaum Anshar.

“Aku ingin menikahkan putri kalian,” pinta Rasulullah SAW kepada salah seorang pemimpin Anshar tersebut. Sang tuan rumah mengira, Rasulullah SAW lah yang akan menjadi menantu mereka. Dengan wajah bahagia, mereka menyambut Rasulullah SAW dengan suka cita.

“Bukan untukku. Ku pinang putri kalian untuk Julaibib,” timpal Rasulullah SAW. Ayah si gadis langsung terpekik. Bahkan Julaibib sendiri pun merasa minder yang teramat sangat. Sedemikian nekatkah Rasulullah ingin memperistrikan dirinya yang buruk rupa itu dengan putri seorang bangsawan?

Lalu diberitahukanlah perihal lamaran itu kepada si gadis. “Apakah ayah dan ibu hendak menolak permintaan Rasulullah SAW? Demi Allah, kirim aku padanya. Jika Rasulullah SAW yang meminta, maka pasti beliau tidak akan membawa kehancuran dan kerugian bagiku,” tegas si gadis yang salehah.

Ia kemudian membacakan ayat, “Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan beriman, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS al-Ahzab: 36).

Akhirnya, menikahlah Julaibib yang miskin, buruk rupa, dan tak punya nasab tersebut dengan gadis salehah anak seorang bangsawan. Inilah yang dipahami oleh Mazhab Maliki, bahwa defi nisi kufu (kesetaraan antara suami istri) bukanlah soal materi, kedudukan, dan harta benda. Melainkan kufu ketakwaan dan kesalehan keduanya.

Kisah ini mengajarkan para sahabat ketika itu dan umat Nabi Muhammad SAW, bahwa di mata Allah SWT semua manusia sama. Yang membedakan derajat mereka hanyalah ketakwaan saja. Sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan fi sik kalian. Allah hanya melihat hati dan amal perbuatan kalian.” (HR Muslim).

Janganlah seseorang merasa malu, minder, dan rendah diri lantaran keterbatasan fi sik atau perkara ekonomi. Tak ada alasan pula untuk berputus asa dari rahmat Allah SWT lantaran ditakdirkan dalam kondisi serba keterbatasan. Jika dari segala keterbatasan tersebut bisa melahirkan seorang Muslim yang saleh, maka dialah yang lebih mulia di sisi Allah.

Firman Allah SWT, “Janganlah kamu bersikap lemah dan jangan (pula) bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Ali Imran [3]: 39).

Kisah Julaibib juga memberi pelajaran bagi orang beriman untuk tidak membedabedakan saudara mereka karena fi sik atau faktor ekonomi. Dalam memilih teman, sahabat, hingga jodoh, hendaklah mengedepankan faktor kesalehan dibanding faktor-faktor yang lain.

Julaibib yang sering mendapat cibiran di muka bumi, ternyata menjadi sosok yang dirindukan oleh penghuni langit. Julaibib syahid di medan pertempuran dan meraih gelar syuhada. Rasulullah SAW mengafani Julaibib dengan tangannya sendiri. Ia dishalatkan Rasulullah SAW secara pribadi. Rasulullah SAW pun mendoakan Julaibib, “Ya Allah, dia adalah bagian dari diriku dan aku adalah bagian dari dirinya.”

Hal ini menyadarkan para sahabat, bisa jadi seseorang yang dipandang rendah di mata manusia, tapi tinggi di hadapan Allah SWT. Potensi setiap orang menjadi saleh sama-sama besarnya. Siapa pun bisa menjadi saleh dan tinggi kedudukannya di sisi Allah. Seperti Julaibib yang sering dihina manusia, tapi dimuliakan derajatnya di sisi Allah

Jumat, 26 April 2019


Empat Pembagian Waktu Menurut Syeikh Ihsan Jampes

Manusia diciptakan oleh Allah dengan segala kesempurnaan didalamnya, baik anggota badannya sampai dianugerahi akal yang sempurna merupakan anugerah yang besar dan juga sebagai ujian kehidupan, ia mau bersyukur apa kufur. Dari penjelasan ini manusia harus bijak dalam mengelola kehidupannya baik penggunaan waktu, energi, ilmunya, sehingga ia mampu menjadi pemenang dalam perlombaan dalam kehidupan ini
Dalam kitab Sirajut Tolibin, karya Syeikh Ihsan Jampes mengutip perkataan seorang Ulama besar yang bernama Abu Abbas Al Mursi  menyatakan bahwa  waktu yang diberikan Allah kepada hambanya ada  empat kategori, yaitu:
Pertama, waktu yang selalu diisi oleh segala macam kenikmatan. Maka dikala merasakan nikmat yang melimpah, mulai naik pangkat, mobil lima mengkilat, apartemen yang bertingkat, maka harus disadari itu semua hanya titipan, seharusnya  disyukuri bukan diingkari, sehingga kenikmatan ini menambah ketenangan bukan mendatangkan kesusahan.
Kedua, Waktu yang penuh duri ujian. Tatkala mendapatkan ujian hidup, baik kekurangan harta, diuji sakit, atau terkena musibah lainya, maka cara yang terbaik adalah sabar menghadapinya, dan berusaha positif thinking ke Allah, bahwa dibalik semua ujian pasti ada hikmah yang besar sekali bila kita mau menggalinya.
Ketiga, waktu untuk berbuat ketaatan. Hal ini diperjelas oleh Syeikh Muhammad bin Ibrahim Ar Rand bahwa tatkala seseorang sedang melakukan ketaatan kepada Tuhan, maka ia harus bersyukur atas pemberian kesehatan, kesempatan dan kekuatan untuk menjalankannya, tanpa pertolonganNya manusia tak akan mendapatkan hidayah untuk berbuat kebaikan.
Keempat, waktu yang digunakan untuk berbuat maksiat. Maka disaat melakukan keburukan atau kemaksiatan, manusia harus berusaha kembali kejalan Tuhannya dengan memperbanyak istigfar, dan menyesal telah melakukan perbuatan yang terlarang.
Dari kesimpulan diatas manusia harus pandai dan cerdik dalam mensiasati sebuah kompetisi kehidupan yang susah ditebak, dengan memanfaatkan waktu yang maksimal, serta mengetahui arus perubahan, agar tak terbawa arus perubahan zaman.

Oleh:
Mohammad Afif sholeh

#edisi fathul_kutub2019
#Al- Iman~putri


Kamis, 27 September 2018

Dahsyatnya Menyebut Nama Anak Dalam Setiap Do'a

Boleh Dicoba! Ikuti..
Manfaat Menyebut Nama Anak Dalam Setiap Doa

Dr Fauzia Addabbus, seorang psikolog yang amat populer di Kuwait pernah menulis di Twitter tentang rahasia-rahasia doa seorang Ibu jika tiap malam ia mendoakan anak-anaknya, dan ternyata efek dari twitter itu telah mengubah jalan hidup banyak orang.

Isi twitternya sebagai berikut:

“…Wahai para ibu agar jangan engkau tidur tiap malam sebelum kau angkat kedua tanganmu sambil menyebut satu persatu nama anak-anakmu dan mengabarkan kepadaNya bahwa engkau rida atas mereka masing-masing.

Begini doanya:

Allohumma innii usyhiduka annii roodhiyah ‘an ibnii/ibnatii* … (sebut nama anak-anakmu satu persatu)… tamaamar-ridho wa kamaalar-ridho wa muntahayir-ridho. Fallohumma anzil ridhwaanaka ‘alaihim biridhooii ‘anhum

(Ya allah aku bersaksi kepadaMu bahwa aku rida kepada anak-anakku (…….) dengan rida paripurna, rida yang sempurna dan rida yang paling komplit. Maka turunkan ya Allah keridaanMu kepada mereka demi ridaku kepada mereka).

Testimoni Para Ibu Yang Mendoakan Anak
Seorang ibu yang mendoakan anak laki-lakinya yang berumur 22 tahun. Maka bercerita:

Sejak kelahiran anakku itu aku hidup dalam penderitaan karenanya. Dia tak pernah salat dan bahkan jarang mandi , dia sering berdebat panjang denganku, dan tak jarang dia membentakku dan tak menghormatiku, walaupun sudah sering aku mendoakannya.

Maka ketika membaca twittermu aku berkata: “Mungkinkah omongan ini benar? Tampaknya masuk akal? Dan seterusnya….”

Dan akhirnya kuputuskan untuk mencoba mendoakan. Lalu setelah seminggu mulai nada suara putraku kepadaku melunak, dan pertama kali dalam hidupku aku tertidur dalam kedamaian. Dan kemudian kudapati putraku mandi, padahal aku tak menyuruhnya.

Minggu kedua dan aku terus mendoakannya sesuai anjuranmu, ia membukakan pintu untukku dan menyapaku “Apa kabar ibu?” dengan suara lembut yang tak pernah kudengar darinya sebelum itu.

Aku gembira tak terkira walaupun aku tak menunjukkan perasaanku kepadanya samasekali. 4 jam kemudian aku menelponnya di ponselnya, dan ia menjawabku dengan nada yang berbeda dari biasanya: “Bu, aku disamping masjid dan aku baru akan salat waktu ibu menelponku.

Maka akupun tak mampu menahan tangisku, bagaimana mungkin ia yang tak pernah salat bisa mulai salat dan dengan lembut menanyaiku apa kabar? Tak sabar aku menanti kedatangannya dan segera kutanyai sejak kapan engkau mulai salat?

Jawabnya, Aku sendiri tak tahu Bu, waktu aku didekat masjid mendadak hatiku tergerak untuk salat.”

Sejak itu kehidupanku berubah 180 derajat, dan anakku tak pernah lagi berteriak-teriak kepadaku dan sangat menghormatiku. Tak pernah aku mengalami kebahagiaan seperti ini walaupun aku sebelumnya sering hadir di majelis-majelis zikir dan pengajian-pengajian.

Doa Ibu Itu Sangat Ampuh
Karena beratnya kehidupan sehari-hari seringkali seorang ibu melupakan doa untuk anak-anaknya, sering juga dia menganggap bahwa pusat-pusat bimbingan psikologi adalah jalan lebih baik untuk perkembangan anak-anaknya.

Padahal justru doa Ibu adalah jalan tersingkat untuk mencapai kebahagiaan anak-anaknya di dunia dan akhirat. Jangan pernah bilang: “Ah anakku masih kecil, ngapain didoakan?”

Jadi doakan mereka mulai sekarang, dan jadilah orang yang bermurah hati dengan doa-doamu untuk mereka. Allah telah mengkaruniai kita para ibu sebagai wasilah bagi anak-anak kita dalam hubungan mereka dengan Allah melalui doa-doa kita untuk mereka.

Kita bisa melakukannya kapanpun kita mau, dan kita bisa mengetuk pintuNya kapanpun kita mau dan Allah tak pernah mengantuk dan tak pernah tidur.

Sumber: Widiynews

2018/09/24 10:15

Selasa, 11 September 2018

Syahrulloh al kariim

Assalaamu'alaikum Wr. Wb.
Buat semua saudaraku muslim di manapun berada, *Selamat Tahun Baru Islam 1440 Hijriyah, kullu am, wa antum thoyyibun* 🙏☺

Teriring doa, Semoga di tahun baru Islam ini, Kita semua semakin dinamis, senantiasa mendapat  keberkahan, kesejahteraan, hikmah kehidupan, dan petunjuk serta RidhoNya Allah SWT... Amin..

Hijrah Nabi Muhammad Saw, bukan hanya sekedar pindah tempat dari Makkah ke Madinah, akan tetapi adalah perjuangan mati-matian untuk membela Islam, MARI KITA TERUSKAN SAMPAI KIAMAT !

Minggu, 09 September 2018

Phubbing istilah baru efek teknologi

Phubbing adalah istilah baru yang muncul efek dari perkembangan teknologi 
Yaitu sebuah tindakan seseorang yang sibuk sendiri dengan gadget di tangannya, sehingga ia tidak perhatian lagi kepada orang yang berada di dekatnya. Coba kita berfikir .. buat apa kiranya mengadakan suatu pertemuan atau reunian kalau akhirnya pada sibuk sendiri. Musyawarah atau obrolan dan sendagurau yang seharusnya menyenangkan hilang akibat kesibukan masing masing dalam main hp.
Ya Rabb. Kita sudah menjadi phubber sejati.
Padahal Rasulullah sangat memperhatikan adab saat berbicara dengan orang lain. Dalam kitab Syamail Muhammadiyah, disebutkan Baginda Nabi selalu perhatian kepada lawan bicaranya. Bila ia tertawa maka Nabi ikut tertawa. Jika ia takjub terhadap apa yang sedang dibicarakan maka Nabi juga ikut takjub.

ولا يقطع على احد حديثه

“Dan Rasulullah tidak pernah memotong pembicaraan orang lain.” (Hadist Riwayat Tirmidzi)
Bahkan saya pernah duduk di suatu masjid untuk shalat Jumat, dan pemuda di samping saya bermain medsos sepanjang khutbah! Ini namanya bukan lagi phubbing kepada orang lain, tetapi kepada Allah!
Karena sejatinya sejak langkah pertama kita masuk ke baitullah (masjid) maka kita sudah berhadapan kepada Allah. Sungguh mengherankan kalau ada orang niat mau shalat Jumat ke masjid kok bawa hape.
Saudaraku, mari kita benahi diri sendiri. Tidak berarti kita berhenti gunakan hape, tapi setidaknya kurangi phubbing sebisa mungkin. Hargai orang-orang di sekitar kita. Dan lebih penting lagi, kita teladani Rasulullah sebagai panutan kita.
Jangan sampai handphone yang kita beli dengan keringat hasil usaha sendiri ini, justru memisahkan kita dengan orang-orang yang kita sayangi. Bahkan memisahkan kita dengan Rasulullah SAW.

Santapan cahaya kehidupan

Walaupun cahaya adalah santapan bagi jiwa
dan bagi penglihatan-qalb,
ragamu pun membutuhkannya. 

Jika ragamu, yang semula kebiasaannya bagaikan setan,  
tak dapat berubah menjadi gemar akan cahaya,
tidaklah sang Nabi akan bersabda,  
"bahkan setanku telah menjadi Muslim." 

Ketika perutmu tengah rakus,
engkau perlu berjarak dengan dunia;
ubahlah asupan makananmu.

Jika qalb-mu yang sedang sakit,
segera cari obatnya:
ubahlah sikapmu.

Jika engkau diperbudak makanan,
bebaskan dirimu,
dengan melemahkan ragamu.

Di dalam lapar terdapat banyak nutrisi:
carilah dengan tekun
dan lambungkan harapan menemui-Nya.

Santaplah cahaya, 
jadilah seperti mata.

Wahai insan,
akrabilah para malaikat.

Seperti malaikat,
jadikan berpuji pada-Nya
sebagai santapanmu.



Sumber:

Rumi: Matsnavi  V: 288, 293 – 298.

Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh
Camille dan Kabir Helminski, 
dalam "Rumi: Jewels of Remembrance," 
Threshold Books, 1996.
Terjemahan dari Bahasa Persia oleh

  • Yahya Monastra.